PInter
Sama-Sama Berjuang

Oleh: Ny. Widya Suwarna (Bobo No. 20/XXIX)


Ika sedang mengepel lantai, namun pikirannya melayang-layang. Baru seminggu ia tinggal di Jakarta dan rasanya ia tak tahan. Oom Hari dan Tante Ester baik kepadanya. Kawan-kawan di sekolah juga baik. Namun, ia selalu rindu untuk kembali ke desa di pantai Utara Pulau Jawa. Ia teringat rumahnya, halamannya yang luas, pohon petai, pohon pisang, kandang-kandang ayam, air sumur yang sejuk, dan suasana akrab dengan tetangga.
Namun, ayah Ika yang semula bekerja di tambak udang kini tidak memiliki pekerjaan lagi. Tambak tempatnya bekerja sudah dijarah. Pemiliknya belum mau lagi menanam benih udang. Ika terpaksa dititipkan pada Tante Ester, adik ayah di Jakarta. Oom Hari dan Tante Ester bekerja, jadi mereka sanggup membiayai Ika. Bila ayah Ika sudah mendapat pekerjaan, Ika akan kembali ke desa. Di rumah gedung berpagar tinggi Ika merasa sepi dan terasing. Baru saja ia selesai mencuci kain pel, bel pintu sudah berbunyi, "Ning, nong!"
Ika berlari ke depan sambil membawa kunci gembok. Aaah, kalau di desanya, pintu rumah tak perlu digembok.
"Selamat sore, Tante!" sapa Ika sambil membukakan pintu.
"Sore. Bagaimana PR-mu? Sudah dibuat?" tanya Tante Ester. Ia membawa tas kerja dan tas plastik.
"Sudah, Tante. Ika baru selesai mengepel lantai!" jawab Ika.
Tante Ester masuk ke dalam dan Ika kembali menggembok pintu. Di meja makan Tante Ester mengeluarkan sebuah kotak.
"Makanlah, ada roti enak. Setelah itu, tolong antar dua potong roti ke rumah nomor 25 Blok AB di jalan belakang rumah kita. Di situ tinggal Oma Nani dan pembantunya!" kata Tante.
"Terima kasih, Tante. Biar Ika antar roti ini dulu untuk Oma Nani. Makan rotinya nanti saja!" kata Ika sambil memisahkan dua potong roti untuk Oma Nani.
"Nomor 25, nomor 25!" gumam Ika sambil mencari rumah Oma Nani. Ia berbelok ke kiri. Tangan kanannya memegang kunci gembok. Ika masih merasa aneh, ke mana-mana harus membawa kunci gembok.
Rumah nomor 25 kecil, halamannya kurang terawat. Ika menekan bel dan kemudian muncul seorang wanita. Ia pembantu Oma Nani.
"Mbak, saya Ika, keponakan Bu Ester. Ini ada roti untuk Oma Nani dari Bu Ester!" kata Ika dari balik pagar.
"Ooh, masuklah. Oma Nani senang kalau ada tamu!" wanita itu membuka kunci gembok dan mengajak Ika masuk. Di ruang tamu, ada seorang nenek berambut putih keriting sedang duduk di kursi roda. Wajahnya tampak sedih.
"Oma, ini Ika, keponakan Bu Ester. Ada roti untuk Oma dari Bu Ester!" lapor Mbak tadi.
Oma Nani tersenyum. Ada kilatan kegembiraan di matanya dan sedikit kecerian di wajahnya, namun kemudian redup kembali. Oma Nani menghela napas. "Sampaikan terima kasih Oma pada tantemu. Masih ada yang mau memperhatikan Oma, orangtua yang tidak berguna ini!" kata Oma Nani.
Kemudian Oma Nani minta Ika bercerita tentang keluarganya.
"Oma kenal ayahmu. Dulu Oma juga tinggal di desamu!" kata Oma Nani. Oma Nani menanyakan kali tempat orang-orang mencuci baju, Kakek Kiman pembuat dandang tembaga, masakan pepes udang yang dulu digemarinya, dan sebagainya. Selama bercakap, berkali-kali Ika melihat kegembiraan di wajah Oma Nani. Namun kegembiraan itu lalu redup kembali disertai helaan napas.
"Sekarang Oma sudah tua, lumpuh, tidak berguna lagi! Tapi, kita harus tabah, ya."
Aneh! Ika tiba-tiba merasa dikuatkan setiap kali Oma Nani berkata 'kita harus tabah, ya'. Dan kerinduannya akan kampung halaman pun terobati. Tiba-tiba Ika ingat, ia harus pulang. Mungkin Tante Ester cemas menantinya.
"Oma, Ika harus pulang. Terima kasih ya, Oma. Ika sering merasa ingin kembali ke desa dan tidak betah di Jakarta. Tapi mendengar Oma berkata 'kita harus tabah', Ika menjadi kuat lagi. Ika mau bertahan tinggal di sini! Terima kasih, ya Oma," Ika menjabat tangan Oma erat-erat.
Tiba-tiba wajah Oma Nani bersinar. Tangannya menjadi hangat dan air mata menetes turun membasahi pipinya.
"Oooh, Ika, omalah yang harus berterima kasih. Rupanya masih ada gunanya Oma hidup di dunia. Tak disangka Oma masih bisa memberikan semangat pada orang lain!" kata Oma Nani. Ia menatap Ika dengan sorot mata penuh terima kasih. Ika pun merasakan air matanya mengalir turun.
"Ika, mari kita sama-sama berjuang. Oma akan berjuang melawan penyakit Oma. Kamu pun berjuang untuk menyesuaikan diri di Jakarta. Datanglah ke sini kapan saja kamu mau bicara dengan Oma!" kata Oma Nani.
Ika menghapus air matanya. Beban beratnya sudah hilang.
"Isah, tolong dorong kursiku ke depan. Aku mau mengantar Ika ke depan!" Oma Nani memanggil pembantunya. Dalam sekejap Isah sudah muncul.
"Wah, kemajuan sekali. Apa Oma mau mengantar Ika sampai ke rumahnya? Sudah lama kita tidak jalan-jalan ke luar!" kata Isah.
"Sampai di depan pintu sajalah. Besok pagi kita akan mulai jalan-jalan lagi!" kata Oma Nani.
"Terimakasih, ya, Neng Ika, sudah memberi Oma semangat!" kata Isah dengan wajah ceria dan penuh semangat.
"Omalah yang memberi semangat padaku, Mbak Isah!" kata Ika.
Di perjalanan pulang, hati Ika terasa hangat. Aneh, tapi nyata. Perjumpaan tadi ternyata membuat Oma Nani dan Ika mendapat semangat baru. Mbak Isah pun menjadi ceria. Dan itu dimulai dengan kebaikan hati Tante Ester, yang ingin memberi sedikit perhatian pada tetangga.
Ika tidak lagi berpikir dirinya terkurung di rumah berpagar tinggi. Kini ia merasa bersyukur bisa menumpang di rumah Tante Ester yang baik hati. Dan ia pun memiliki kawan yang sama-sama berjuang melawan kesulitan masing-masing.


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.