| Perjuangan Kak Tia Oleh: Maharani Aulia (Bobo No.
14/XXIX)
Sudah dua minggu ini Ibu mengurangi jatah uang sakuku. Dua minggu pula kami sekeluarga makan dengan hidangan sederhana. Aku sendiri sebetulnya tak suka jajan di sekolah. Kata Kak Tia, jajanan di luar rumah tidak terjamin kebersihannya. Uang sakuku selama ini kutabung. Tabunganku memang sudah banyak dan aku berencana membeli jam tangan dari tabunganku.
Sore hari, ketika aku asyik dengan buku komik temanku yang baru kupinjam, Ibu masuk ke kamarku dengan raut muka agak murung. Timbul tanda tanya dalam diriku.
"Ada apa, Bu?"

"Is, Ibu mau bertanya. Jika kau punya sesuatu yang tidak sedang kau butuhkan, dan ada orang lain yang lebih membutuhkan, apa yang akan kau lakukan?"
"Tentu saja saya akan memberikannya pada orang itu, Bu. Tapi kenapa Ibu bertanya seperti itu?"
"Saat ini kebutuhan kita banyak sekali. Semuanya harus dipenuhi, padahal uang Ibu tidak cukup. Oleh karenanya kita harus lebih berhemat. Kamu tahu itu, Is?"
Aku mengangguk kecil. Kemudian lanjut Ibu, "Kemarin Kak Tia bilang, ia membutuhkan tambahan uang untuk membayar SPP. Sedangkan uang yang Ibu punyai hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari kita dan kebutuhan sekolahmu, Is. Ibu harap kamu tak keberatan memberikan uang tabunganmu untuk membantu Kak Tia."
Aku terdiam. Bingung. Kasihan juga Kak Tia, tetapi aku juga ingin membeli jam tangan dari hasil jerih payahku menabung selama ini. Aku berpikir.
"Bagaimana, Is?"
Aku tersentak. Kemudian dengan suara agak berat aku menjawab, "Ya, Bu. Sepulang sekolah besok saya akan mampir ke bank untuk mengambilnya."
Batallah niatku memiliki jam tangan itu. Padahal aku sudah janjian dengan Ari sahabatku untuk membeli dan memakainya bersama-sama. Sepulang sekolah, aku mampir ke bank yang berada tak jauh dari sekolahku.

Setelah semua selesai, aku berjalan kaki menuju rumah yang masih berjarak setengah kilometer. Aku jadi tak keberatan, walaupun tadi Pak Adi mengumumkan nilai ulangan matematika terbaik di kelas. Kue donat kesukaanku yang dibawakan Ari dari rumahnya pun tak tersentuh. Masih utuh, tapi kubawa pulang juga.
Tak terasa aku tiba di rumah. Kulihat Ibu menungguku di ruang makan. Aku terharu melihat Ibu yang tampak lelah, tetapi tersenyum. Ibu bekerja sebagai guru les Bahasa Inggris demi kelangsungan hidup kami.
Suasana di rumah siang ini sepi. Hanya ada aku dan Ibu. Kak Tia, kakak sulungku, sudah kuliah di Fakultas kedokteran hewan. Sore hari ia baru pulang. Meski sedang dihimpit banyak kebutuhan dan harus berhemat, Ibu tetap memperhatikan kesehatan kami. Buktinya masih ada lauk dan sayur di meja makan. Kami juga masih bisa minum susu, karena Kak Tia membelinya di koperasi kampusnya, yang harganya jauh lebih murah daripada susu bermerek.
"Ayo, cuci muka dan tanganmu, Is! Kita makan sama-sama," sambut Ibu.
Makan pun aku jadi tak berselera. Kuambil sedikit makanan daripada nanti bersisa.
Berhari-hari aku seperti kehilangan semangat. Aku jadi malas belajar, dan malas bicara kalau tidak perlu.
"Kau kenapa sih, Is? sikapmu aneh akhir-akhir ini," tegur Kak Tia suatu hari. Aku diam saja. Lalu ia mengulangi tegurannya.
"Hei, ditanya kok diam saja?"
"Nggak kenapa-kenapa," sahutku datar.
Kak Tia geleng-geleng kepala. Biar, biar dia pikir apa yang membuatku mendiamkannya. Aku kesal padanya. Sebulan yang lalu, kulihat ia memakai tas sekolah dan sepatu baru. Memang tas dan sepatunya yang lama sudah usang betul. Bahkan tasnya berkali-kali dijahit. Tapi aku tetap merasa diperlakukan tidak adil. Karena jauh sebelumnya aku meminta Ibu membelikanku baju seragam pramuka, tapi hingga kini belum juga terpenuhi.
Suatu hari, sepulang sekolah dan sesampai di rumah, kulihat ada beberapa bungkusan plastik hitam di sudut ruang tamu. Aku tak berani membukanya, karena jelas itu bukan milikku. Kuraba-raba bagian luarnya dan mengira-ngira apa isinya.
"Tumben agak cepat pulang, Is?" sapa Ibu. Aku kaget mendengarnya.
"Tadi ada rapat dewan guru pada jam terakhir, jadi murid-murid dipulangkan," sahutku."Bu, apa isinya ini?" tanyaku seraya menunjuk pada bungkusan itu.

"Oh, itu susu segar, seperti yang biasanya kita minum!" jawab Ibu.
"Semuanya?" tanyaku lagi. Ibu mengangguk.
"Kenapa banyak sekali, Bu?" aku heran.
"Is, Ibu sedih dengan sikapmu belakangan ini. Kak Tia bilang kau memusuhinya. Sebenarnya apa masalahnya, Is?'
Aku heran kenapa Ibu tak langsung menjawab pertanyaanku, malah mengingatkanku pada Kak Tia yang menyebalkan itu.
"Saya kecewa pada Ibu dan Kak Tia. Ibu membelikan Kak Tia tas sekolah dan sepatu, tapi membiarkan saya memakai baju pramuka yang sudah usang. Kalau Ibu tidak membelikan Kak Tia sepatu dan tas baru, uangnya bisa untuk membayar SPP Kak Tia, kan? Jadi uang tabungan saya bisa untuk membeli jam tangan dan seragam pramuka," jelasku.
"Is, sepatu dan tas itu dibeli oleh Kak Tia dengan uangnya sendiri, bukan Ibu yang membelikan. Biaya sekolahmu dan biaya hidup sehari-hari, sesungguhnya Kak Tia lah yang paling banyak mencukupi. Dan yang belum kau ketahui, Is, selama ini Kak Tia bekerjasama dengan teman-temannya membuat yogurt dan menjualnya. Berliter-liter susu inilah yang akan diolah menjadi yogurt. Hasilnya lumayan untuk mencukupi kebutuhan kita."
"Oh, aku telah berburuk sangka pada Kak Tia. Ya Tuhan, aku menyesal.
"Benarkah itu, Bu?" tanyaku lagi.
"Benar," jawab Ibu. Aku jadi malu pada Kak Tia.
"Bu, saya minta maaf," ucapku menahan tangis. Ibu memelukku erat. Beberapa saat kemudian terdengar langkah seseorang yang sudah sangat kukenal.
"Lo, ada apa ini, Bu?" seru Kak Tia. Ibu tersenyum dan melepas pelukannya.
"Kak, aku minta maaf. Selama ini aku salah," sesalku sambil mengulurkan tangan. Kak Tia menarik tanganku dan memelukku.
"Ya, Kakak maafkan. Oh ya, tapi kamu mau membantu kakak, kan? Kita bikin yogurt sama-sama, dan kau bantu menjualnya juga," jelas Kak Tia.
"Mau, Kak. Oh ya, Ari dan keluarganya kan, doyan yogurt. Terus, bisa juga nanti yogurtnya dititipkan di kantin sekolah."
"Nanti sore kita mulai ya, Is!"
Aku mengangguk dan tersenyum. Ya, aku harus berjuang seperti Kak Tia. Agar kami bisa mandiri dan membantu orang lain jika kami lebih berpunya. Soal jam tangan itu, aku tak mempersoalkannya lagi. *****
|