PInter
Jangan Buka Amplop Ini

Oleh: Ellen Kristi (Bobo No. 8/XXIX)


Erin memegang surat itu dengan kedua belah tangannya. Ia penasaran. Memang tadi Ibu Guru telah berpesan jelas, jangan buka amplop ini. Tapi ia begitu ingin tahu. Mengapa tidak boleh dibuka? Adakah isinya sesuatu yang sangat rahasia?
Di atas amplop tertulis: kepada yang terhormat Bapak/Ibu Rifki. Bapak dan Ibu Erin. Apa sebabnya Ibu Guru menulis surat kepada Bapak dan Ibu? Erin tak berhenti berpikir sambil melangkah pulang. Aneh, aneh sekali. Sebelumnya tidak pernah Ibu Guru menulis surat khusus kepada Bapak dan Ibu. Paling-paling pemberitahuan jadwal tes, atau rapat orang tua murid, atau peringatan membayar uang sekolah. Bentuknya pun bukan surat, tidak pakai amplop, hanya di-staples biasa saja. Erin hafal betul.
Lalu sikap Ibu Guru tadi pun janggal. Memang masih tersenyum ramah seperti biasa, namun nada suaranya berbeda. Ibu Guru serius sekali memperingatkan Erin agar jangan sekali-sekali membuka amplop ini. Dan untuk itu Ibu Guru sampai merasa perlu memanggil Erin secara pribadi, bertemu empat mata.
Erin agak takut sekarang. Mungkinkah Ibu Guru telah melihatnya mencontek waktu ulangan sejarah tiga hari yang lalu? Erin mengaku malam sebelum ulangan ia malas belajar, jadi dia tidak membuka buku sama sekali. Akhirnya saat menghadapi soal ia kebingungan, kemudian ia mengintip jawaban Muna yang duduk di depan. Tentu Ibu Guru hendak melapor perbuatan buruk Erin pada Bapak dan Ibu.
Keringat menetes di punggung Erin, di balik bajunya. Ia ingat, dalam satu minggu terakhir masih ada beberapa perbuatan buruk lain yang Ibu Guru tentu tidak senangi. Hari Senin, dia melempar kepala Bona dengan kapur. Hari Selasa, dia memasukkan seekor kaki seribu ke dalam tempat pensil Lia samapi-sampai Lia menangis ketakutan. Hari Rabu, dia mematahkan penggaris Dion. Hari Kamis, dia buang air besar di kamar kecil sekolah tapi sengaja tidak mau menyiram. Hari Jumat, dia mengatai Kiki "Si Gendut" dan Kiki melaporkan Erin pada Ibu Guru sambil marah-marah. Erin yakin, Ibu Guru menganggapnya anak yang nakal sekali. Jelaslah hari ini Ibu Guru hendak melaporkan semua tingkah laku jelaknya pada Bapak dan Ibu.
Erin menendang tiang listrik dengan jengkel. Terus terang rasanya Ibu Guru agak keterlaluan. Sebetulnya tidak perlu melaporkan Erin pada Bapak dan Ibu. Nakalnya Erin kan belum seberapa dibanding Bono. Bono pernah berkelahi babak belur dengan anak kelas lima di halaman belakang sekolah. Atau Dion? Dion juga nakal. Dion sering memakai uang sekolah untuk jajan. Dan bagaimana dengan Rashid, Teo, Mose? Semua nakal. Juga Lia. Lia itu kalau menangis super keras. Erin pikir Ibu Guru perlu memperingatkan orangtua Lia supaya anaknya tidak terlalu cengeng.
Hampir sampai di rumah. Erin menimang-nimang amplopnya. Kalau Bapak dan Ibu mengetahui kenakalan Erin, Erin bisa dihukum. Uang jajan distop. Tidak boleh nonton tivi. Tidak boleh main play-station. Tidak boleh ke rumah Eyang.
Erin melirik jam tangan. Siang hari begini Ibu sedang sibuk memasak, Bapak pun belum pulang dari kantor. Erin memasukkan amplop ke dalam tasnya. Ia berlari, tergesa membuka pagar, membuka sepatu, mengucapkan salam kepada Ibu, masuk ke kamar dan langsung membongkar tumpukan bukunya. Erin ingat pernah membaca di salah satu buku cerita tentang cara membuka amplop tanpa merusakkannya. Dia harus tahu apa yang ditulis Ibu Guru kepada Bapak dan Ibu. Setidaknya, dia bisa menyiapkan tanggapan bila Bapak dan Ibu memarahi dia.
Mana ya bukunya? Aha, ini dia! Erin lekas membolak-balik halaman buku tersebut. Hm, hm, panaskan air hingga mendidih, biarkan amplop terkena uap air, maka lemnya akan terbuka sendiri. Bagus, setelah itu Erin dapat mengelemnya kembali.
Erin berdebar-debar mengambil satu baskom besar. Ia berjingkat ke dekat dispenser, mengucurkan air panas. Uap air mengepul-ngepul. Erin tersenyum, segalanya berjalan lancar tapi ia harus cepat-cepat, jangan sampai uapnya nanti habis.
"Lo, Erin, untuk apa air panas sebanyak itu?"
Nyaris Erin menjatuhkan baskom saking kagetnya. Celaka! Ibu sejak tadi ternyata memperhatikan dari belakang. Tarik napas, satu-dua, satu-dua. Erin berusaha menenangkan diri, toh Ibu tidak tahu apa yang sedang dia rencanakan.
"Rahasia, Bu!" Erin menjawab singkat.
"Eh, sama Ibu kok main rahasia-rahasiaan?" Ibu sedikit mengerutkan kening.
Pokoknya penting, deh, nanti Ibu juga tahu," sahut Erin seraya bergegas mengangkut baskom ke kamar.
Ibu mengedikkan bahu dan melanjutkan masak-memasaknya.
Sesampainya di kamar, Erin menghembuskan napas penuh kelegaan. Untung Ibu tidak cerewet, jadi dia tidak usah berbohong. Erin paling takut membohongi Bapak dan Ibu. Nah, langkah berikutnya adalah segera menguapi amplop Ibu Guru.
Satu menit, dua menit. Coba, dibuka pelan-pelan. Kertas amplopnya jadi agak basah. Mulai terbuka. Ayo, ayo, sedikit lagi. Tahan napas dan … bret! Muka Erin pucat seketika. Celaka, amplopnya robek. Robeknya besar. Bagaimana ini? Bagaimana ini? Bapak dan Ibu pasti tahu bahwa amplopnya sudah dibuka. Erin mesti mengganti amplopnya, tapi dia tidak punya amplop berkop sekolah. Lalu tulisan Ibu Guru di bagian depan amplop? Erin mustahil mencontoh tulisan Ibu Guru yang rapi itu.
Selama beberapa menit Erin hanya memandangi amplop yang robek. Bingung.
"Dasar amplop jelek!" gumamnya pelan.
Apa sih yang ditulis Ibu Guru? Erin mencabut secarik kertas dari dalam amplop. Tidak peduli ketika cara mencabutnya yang kasar itu menambah lebar robeknya amplop. Biarkan saja, telanjur robek ya biar robek. Yang penting Erin mau tahu isi surat Ibu Guru. Buka lipatan kertas suratnya.
Hei, apa-apaan ini? Erin tertegun. Kertas itu ternyata kosong. Iya, sungguh-sungguh kosong, tidak ada tulisan satu huruf pun. Ho-ho, sepertinya Ibu Guru salah memasukkan kertas ke dalam amplop. Surat kosong macam ini tidak perlu disampaikan kepada Bapak dan Ibu. Jadi, amplop robek pun tidak masalah. Erin lega, sangat lega. Dengan wajah ceria ia menghambur keluar kamar.
"Erin, kamu ngapain di kamar? Kenapa lama sekali baru keluar? Tadi Ibu panggil-panggil kamu tidak menyahut. Baru saja Ibu mau menyusul ke kamarmu.
"Ibu mengambilkan piring untuk Erin. "Lha, kok seragamnya juga belum dicopot?"
"Iya nih, Bu, belum sempat ganti baju. Habis Erin repot banget."
"Butuh bantuan Ibu untuk mengerjakan tugasnya?"
Erin buru-buru menggeleng kepala. "Sudah beres, kok."
Hari ini Ibu tidak masak ikan kesukaannya, tapi Erin merasa lapar sekali dan menyantap makan siangnya dengan lahap.
Empat hari berlalu. Erin lumayan tenang karena Ibu Guru sama sekali tidak memanggilnya untuk menanyakan tentang surat kemarin. Hari kelima Erin bahkan hampir melupakan surat itu. Pada akhir pelajaran, Ibu Guru mengetukkan penggaris kayu pada papan tulis. Seisi kelas diminta tenang.
"Coba perhatikan ke depan semuanya!" perintah Ibu Guru. "Sebelum pulang, Ibu ingin menanyakan kepada kalian, apa kalian semua telah mempelajari dengan baik bahan ulangan PPKN minggu depan?"
Hampir semua serempak menjawab, "Sudah, Bu!" "Bagus," Ibu Guru tersenyum senang. "Tetang apa itu?"
"Bersikap jujur dan berani, Bu!" lagi-lagi seisi kelas bersamaan.
"Baiklah. Ibu mengingatkan, belajar bersikap jujur dan berani itu penting sekali.
Bukan cuma untuk dihafalkan, tapi terutama dilakukan. Kalian mengerti?"
"Mengerti, Bu!"
"Sekarang Ibu mau tanya. Sekali lagi, bersikaplah jujur dan berani. Siapa yang dari antara kalian tidak menyampaikan surat titipan Ibu kepada orangtua?"
Kelas sunyi senyap. Erin turut bungkam seribu bahasa. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, teman-temannya pun tampak gelisah. Mata mereka saling bertemu.
"Ayo, bersikaplah jujur dan berani. Siapa yang tidak menyampaikan surat harap berdiri, dan siapa yang membuka sendiri surat itu tanpa sepengetahuan orangtua maju ke depan. Ibu sudah menelepon orangtua kalian masing-masing. Jadi Ibu sudah tahu siapa yang tidak menyampaikan surat itu …"
Dengan perasaan kacau Erin berdiri lalu berjalan ke muka kelas. Ia luar biasa malu. Namun rupanya dia tidak sendiri. Bono juga maju. Lantas Teo, Dion, Lia, Muna …. *****


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.