| Rejeki Tak Akan Lari Oleh: Simas (Bobo No.
7/XXIX)
Siang yang terik. Tiga orang anak melangkah lesu. Usia mereka sekitar sepuluh tahun. Gadis kecil memakai kaca mata minus bernama Alin. Anak lelaki bertubuh gendut dipanggil Iwan. Dan yang terakhir paling tinggi, namanya Acep. Ketiganya adalah siswa kelas V SDN Nusantara I.
"Uh, panas sekali," keluh Acep menyeka peluh di dahinya.
"Namanya juga musim kemarau," tukas Iwan sibuk mengipas dengan topinya. Alin hanya diam. Dalam hati ia membenarkan pendapat kedua temannya.
"Ngomong-ngomong, ada yang punya uang nggak? Traktir dong, uangku habis buat jajan," iseng-iseng Iwan bertanya.
"Kamu sih, tukang makan. Beli bakso saja sampai tiga kali," olok Acep kepada Iwan yang memang gembul.
"Biarin. Kamu sendiri sisa nggak uang jajannya?"
"Tong-pes, kantong kempes," jawab Acep nyengir.
"Huuuu…' Iwan mencibir, "Kamu 'Lin ?" Yang ditanya juga menggeleng. Iwan mengeluh panjang pendek. Menyesali dirinya yang menghabiskan uang jajan di sekolah. Padahal panas-panas begini, paling asyik minum Es Cendol Mang Ucup di perempatan. Sedaaap!
"Kalau begitu, kita balapan saja deh. Biar cepat sampai di rumah," usul Acep kepada teman-temannya.
"Setuju! Itung-itung ngurusin badan," timpal Iwan, lalu menoleh ke arah Alin, "Lo, mana tuan puteri kita?" Keduanya celingak-celinguk. Ternyata Alin tertinggal jauh di belakang. Ia melambaikan tangan, memberi isyarat untuk mendekat.
"Ada apa ya?' gumam Iwan sambil memandang Acep. Tak lama kemudian mereka segera menghampiri Alin.
"Lihat yang kutemukan," Alin menyodorkan tangganya. Dompet!
"Wow!" seru Acep dan Iwan serempak. Dompet itu nampak mahal. Pasti punya orang kaya. Uh, jadi penasaran.
"Ada uangnya nggak Lin? Acep bertanya cepat.
"Belum kubuka,"
"Ayo kita lihat sama-sama," desak Iwan. Alin agak ragu. Hati kecilnya melarang. Tetapi kedua temannya nampak tak sabar lagi. Alin membuka dengan perlahan. Isi dompet itu tidak begitu banyak.
"Kartu ATM, Credit Card dan KTP dengan nama Rahmawati," Alin memeriksa teliti, "Dan uang seratus ribu dalam bentuk pecahan dua puluh ribuan."
"Sip!" Iwan berbinar senang, "Uangnya kita ambil, dompetnya buang saja."
"Jangan," Acep menyela. "Kita serahkan pada pemiliknya, kan ada KTP. Siapa tahu dapat hadiah atau imbalan."
"Nggak ah, usulku lebih praktis. Haus nih."
"Dasar gendut! Itu nyolong namanya."
"Eh, nuduh. Pokoknya usulku."
"Usulku!"
"Sudah jangan bertengkar," Alin melerai. "Ini hasil temuanku, jadi biar aku yang menentukan. Acep dan Iwan tertegun mendengar kalimat tegas Alin. Keduanya menunggu keputusan Alin.
"Dompet ini kuserahkan pada Pos Polisi terdekat, kalian setuju, kan?" Alin menatap keduanya. Acep dan Iwan hanya bisa mengangkat bahu. Meski perempuan, Alin terkenal tegas dan teguh pendirian. Tak ada gunanya bila coba-coba mempengaruhi.
Karena tak ada komentar, Alin melangkah santai. Menuju Pos Polisi yang berjarak kurang lebih 30 meter dari tempat itu. Kedua temannya mengikuti dengan langkah gontai.
Mereka disambut dengan ramah. Setelah menceritakan kejadiannya secara singkat, mereka disuruh mengisi formulir berita. Alin yang mewakili, ia menulis alamat rumahnya pada kolom alamat penemunya. Setelah itu mereka dipersilakan pulang.
Sebulan kemudian …
Anak-anak kelas V SDN Nusantara I diributkan berita burung. Gosip itu menimpa Alin sang Ketua Kelas. Ada yang mengatakan Alin orangnya serakah, ingin menang sendiri, sok kuasa dan lain-lain. Alin kebingungan. Ia berusaha mencari tahu sumber kabar kabur tersebut.
Ternyata, selidik punya selidik, Acep dan Iwan yang bikin perkara. Alin segera menemui mereka, pas istirahat, di belakang sekolah.
"Kenapa sih, kalian ini? Kok begitu sama teman sendiri?"
"Lo bukankah itu kenyataan?" Iwan balik bertanya.
"Masa sifatku sejelek itu," Alin mendesah, "Kalian bilang aku serakah dan ingin menang sendiri. Selama jadi Ketua Kelas, aku selalu bermusyawarah bila ada masalah."
"Ini tidak ada sangkut pautnya dengan jabatanmu."
"Lantas apa?" Alin kebingungan.
"Pikirkan sendiri," keduanya meninggalkan Alin. Sikap Acep dan Iwan nampak sekali memusuhinya. Alin merasa sangat sedih. Kawan-kawan dekatnya malah menuduh yang bukan-bukan. Bunyi lonceng terdengar. Tanda istirahat telah selesai. Alin melangkah lesu, menuju kelas. Rasa-rasanya ia tidak bersemangat lagi belajar. Padahal pelajaran terakhir adalah bidang studi favoritnya, seni lukis.
Bunyi gemuruh kelas lenyap saat Alin masuk. Belasan pasang mata menatap tajam. Bisik-bisik melecehkan terdengar cukup jelas. Alin menunduk, menuju bangkunya. Ia seperti kehilangan muka.
"Selamat siang anak-anak."
"Siang Paaaak…!" Anak-anak menyahut serempak. Terheran-heran saat Pak Budiman-wali kelas mereka-masuk diiringi seorang petugas berseragam dari kepolisian. Mereka saling sikut, bertanya-tanya dengan teman sebangkunya. "Kita kedatangan tamu istimewa siang ini. Supaya tidak makin penasaran, silakan Pak," Pak Budiman berkata ramah.
"Terimakasih," Polisi itu tersenyum berwibawa.
"Begini anak-anak. Kira-kira sebulan yang lalu, ada beberapa teman kalian yang berbuat baik. Mereka menyerahkan dompet temuan kepada pihak kepolisian, tindakannya bijaksana. Pemilik dompet sangat kagum, dalam usia muda, mereka tidak terpengaruh untuk mengutak-atik isinya sama sekali."
Polisi itu berhenti sejenak. Membiarkan keadaan kelas yang tegang dan penasaran. Menduga-duga, siapa yang melakukannya. Acep dan Iwan terpaku. Alin menunduk saja. Sebenarnya ia lebih suka masalah ini tidak dibesar-besarkan. Bukankah itu hal biasa? Perlu kalian ketahui, "Pak Budiman menyambung pembicaraan. Pemilik dompet itu seorang psikolog terkenal. Ia sangat menghargai perilaku terpuji yang dilakukan teman-teman kalian. Untuk itu, ia berkenan menyumbangkan buku-bukunya yang berharga untuk koleksi perpustakaan sekolah kita."
"Yuhuuuuuu… " sorak sorai bergempita. Pak Budiman harus menunggu beberapa saat sampai suasana agak tenang.
"Pengumuman terakhir, bagi anak-anak yang telah berbuat baik tersebut, ada imbalan tersendiri. Mereka bisa mengambilnya di kantor kepala sekolah besok pagi."
Seisi kelas ribut lagi. Sibuk menerka-nerka. Sampai-sampai mereka tak mendengar kalimat Polisi yang berpamitan. Pak Budiman mengantar tamunya keluar. Sementara anak-anak itu asyik bergerombol, mencari tahu dengan semangat.
Alin pura-pura sibuk dengan buku gambarnya. Ia tak ingin ikut ribut-ribut, apalagi pamer diri. Baginya menolong atau berbuat baik bukan untuk mendapat penghargaan. Sebab, ia benar-benar ikhlas. Meski tak dapat imbalan, Alin yakin Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang. Dan Maha mengetahui perbuatan hamba-Nya.
Pulang sekolah Alin kaget karena dicegat Acep dan Iwan. Mereka menunggu di gerbang sekolah. Alin waspada, siapa tahu Acep atau Iwan bermaksud usil. Keduanya terkenal sebagai siswa yang lumayan bandel.
Alin tambah kaget saat keduanya mengulurkan tangan. Dengan ragu ia menatap mereka. Wajah Acep dan Iwan seperti malu-malu.
"Ada apa?" Alin menyalami mereka juga.
"Kami berdua minta maaf," Iwan menunduk tersipu.
"Untuk apa? Kalian tidak punya salah."
"Gosip itu sengaja kami sebarkan karena …" Acep menyenggol Iwan. Yang disenggol jadi ikutan gugup. Alin tersenyum bijak.
"Sudahlah kalau tak mau cerita."
"Eh, begini Lin," kata Iwan pelan. "Kami kira, pemilik dompet itu telah memberi kamu hadiah. Dan kamu hanya diam-diam saja, tidak memberi tahu kami."
"Lo, kok sejauh itu? Mana buktinya?"
"Anu, itu … seminggu yang lalu kamu pakai tas baru. Jadi kami kira ….."
Hahaha… Alin tergelak geli. Acep dan Iwan terheran-heran.
"Ya, ampun, itu sebabnya?" Alin masih menahan geli.
"Tas baru itu adalah oleh-oleh tanteku dari Sulawesi. Lain kali jangan asal tuduh!
"Jadi kamu mau memaafkan kami?"
"Tentu saja, kita 'kan teman. Ayo pulang!"
"Okeeee …"
Mereka melangkah riang. Tapi di sepanjang jalan Iwan diam saja, biasanya paling ribut. Acep dan Alin jadi bingung.
"Nggak pa-pa," jawab Iwan santai saat ditanya.
"Aku lagi konsentrasi nih, siapa tahu menemukan barang yang berharga lagi," sambungnya sambil cengar-cengir.
Huuuuu … Acep dan Alin berteriak serempak. Dasar Iwan. *****
|