PInter
Tak Mau Seperti Anak Katak

Oleh: Ny Widya Suwarna (Bobo No. 51/XXVIII)


Siang itu udara panas terik. Pak Awang mengajar dengan semangat, tapi tetap saja ada beberapa anak yang lapar dan mengantuk.
"Nah, cukup sampai di sini dulu!" kata Pak Awang, guru Bahasa Indonesia.
Beliau masih tetap berdiri di depan, dan menutup buku pelajaran.
"Masih ada waktu lima menit, Pak!" Lala mengingatkan.
"Jangan-jangan Pak Awang sudah menyiapkan kejutan!" sergah Badu.
"Yessss, kejutan!" sorak anak-anak. Pak Awang tersenyum. Murid-murid kelas VA ini memang selalu bersemangat, apalagi kalau Pak Awang mulai mengajak bermain kuis dan membawa hadiah.
"Anak-anak, kali ini ada teka-teki tanpa hadiah, karena hadiahnya ada di dalam teka-teki itu sendiri!" Ucapan Pak Awang membuat anak-anak membuka telinga lebar-lebar. "Dengarkan baik-baik. Ada tiga anak katak di atas daun di atas sungai. Salah seekornya berkata, 'Aku mau melompat ke dalam sungai!'
Pertanyaannya: Ada berapa ekor anak katak di atas daun sekarang?"
"Dua, Pak. Dua ekor!" jawab Badu, sementara beberapa anak juga sudah mengacungkan jari telunjuknya. Pak Awang menggeleng. Semua jari yang terancung turun, keculai Fuad dan Lala.
"Lala, berapa ekor?" tanya Pak Awang.
"Tidak ada lagi anak katak di daun, Pak. Yang dua ikut juga melompat karena melihat kawannya melompat!" jawab Lala.
"Salah. Itu namanya katak yang suka ikut-ikutan!" kata Pak Awang.
"Ya, sekarang giliran Fuad!" kata Pak Awang.
"Di atas daun sekarang tetap ada tiga anak katak. Yang seekor baru mau melompat, tapi kan belum melompat!" jawab Fuad.
Pak Awang bertepuk tangan di ikuti anak-anak.
"Ya, Fuad memang benar. Sering kita mau melakukan sesuatu, niat baik ada, tapi cuma sampai diucapkan, tidak dilaksanakan. Itulah hadiah yang terkandung dalam teka-teki. Kalau ada niat baik, perlu tindakan, bukan sekedar niat!" kata Pak Awang menjelaskan.
"Tidak boleh omdo, ya Pak!" komentar Badu.
"Apa itu omdo?" Pak Awang malah balik bertanya.
"Omooooooong doooooaaaaaang!" jawab anak-anak bagaikan koor, disusul dengan teng.., teng… teng… bunyi lonceng tanda sekolah usai.
Anak-anak pulang. Lala sangat terkesan dengaan teka-teki itu. Tiba-tiba ia ingat banyak hal yang mau dilakukannya, tapi tak dilakukan juga. Misalnya menelepon Regina, kawan lamanya, membereskan lemari buku, menjahit kancing baju yang putus dan juga menengok Kakek Ical, tetangganya yang sedang sakit. Sudah dua minggu Kakek Ical sakit, entah sudah sembuh atau belum.
Setelah tiba di rumah, Lala bertanya, "Bu, Kakek Ical sudah sembuh belum?"
"Katanya sih sudah, tapi belum kuat jualan di kereta api! Sudah tua, kasihan kalau harus memanggul keranjang tahu goreng!" kata Ibu.
"Sesudah makan, Lala mau pergi ke sana sebentar!" Lala memberitahu.
"Bagus. Ada kemajuan rupanya. Biasanya kamu banyak maunya, tapi banyak yang tidak dikerjakan!" kata Ibu.
"Lala tidak mau seperti anak katak, Bu!" kata Lala. "Nanti sambil makan Lala ceritakan!"
Begitulah, sesudah mengganti pakaian dan mencuci tangan, Lala duduk di kursi makan. Sambil menikmati makan siang yang lezat, Lala menceritakan teka-teki anak katak kepada Ibu.
Di rumahnya, Kakek Ical sedang duduk di kursi tamu sambil bertopang dagu. Kerut-merut di dahinya terlihat nyata, matanya kuyu dan ia kelihatan lesu.
"Kek, jangan melamun. Kan sudah sembuh!" kata Lala. "Ibu titip telur untuk Kakek dan Nenek!" Lala menaruh bungkusan telur di atas meja.
Nenek Ical yang sedang menyeterika di ruang tamu berkata, "Terimakasih, La. Kakek Ical memang sudah sembuh, tapi pikirannya masih ruwet. Ingin jualan di kereta api, badan tak kuat. Tidak jualan, di rumah bosan!"
Di sudut ruangan keranjang plastik berbentuk agak persegi panjang membisu, bagaikan turut merasa sedih. Biasanya keranjang itu diisi tahu goreng dan dijajakan di kereta api oleh Kakek Ical.
"Kalau berat, tak usah dipanggul. Didorong saja pakai troli, dorongan koper seperti banyak dipakai orang di bandara!" saran Lala.
"Alat seperti itu kan mahal, La!" kata Nenek Ical.
Tiba-tiba Kakek Ical bangkit. Wajahnya berseri-seri dan matanya berbinar-binar. "Tidak, tidak mahal. Aku bisa minta Pak Safei tukang sepeda memasang roda di keranjangku. Bawahnya dipasangi kayu dulu, baru dipasang roda. Jadi keranjang ini bisa ditarik! Kamu hebat, La!" kata Kakek Ical dan ia pun mengangkat keranjang plastiknya, menaruhnya di meja, memeriksa alasnya.
"Kakek pergi dulu, ya. Kalau hari ini bisa selesai, besok Kakek bisa jualan tahu lagi. Walah, walah, coba dari minggu lalu ketemu Lala!" kata Kakek Ical riang, lalu keluar rumah membawa keranjang plastiknya.
"Kakek ini bagaimana sih? Tamu kok ditinggal!" kata Nenek Ical.
Hati Lala berbunga-bunga.
"Tak apa Nek. Lala juga mesti pulang, kan belum buat PR!" kata Lala.
"Kalau begitu, kita keluar sama-sama saja!" ajak Kakek Ical.
Lala dan Kakek Ical menuju bengkel sepeda Pak Safei. Kakek Ical menceritakan rencananya dan ternyata Pak Safei menyanggupi. Kakek Ical juga bercerita tentang kepusingannya karena tak bisa jualan dan tentang kedatangan Lala tadi.
"Sekarang juga akan saya kerjakan. Biar Kek Ical senang!" kata Pak Safei. "Anak sekarang pintar-pintar, banyak akalnya. Untung ada Lala!"
Lala tersipu-sipu dan ia pun pamit pulang. Sambil berjalan menuju rumah, hati Lala penuh sukacita. Ternyata antara mau melakukan yang baik dan mau serta melaksanakannya sangat besar bedanya. Diam-diam Lala bertekad, "Mulai sekarang aku tak mau omdo dan tak mau seperti anak katak!"
Hayo, siapa di antara kamu yang suka omdo?


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.