PInter
Fani Si Ceroboh

Oleh: Ariyanti Pratiwi (Bobo No. 31/XXVIII)


Fani si ceroboh. Itulah nama yang diberikan teman-teman kepada Fani. Setiap hari selalu saja ada kecerobohan yang dilakukannya. Misalnya, ketinggalan buku PR, baju olahraga, ataupun alat-alat tulis. Sudah tak terhitung berapa jumlah pensil dan pulpen yang dihilangkan Fani. Sampai-sampai teman-teman Fani pun enggan meminjamkan barang pada Fani karena terlalu sering dihilangkan. Walaupun Fani tidak bermaksud demikian.
Tidak hanya itu. Fani juga sering melupakan janjinya. Pernah suatu ketika Fani berjanji bertemu dengan Anggi, teman sebangkunya, di kantin. Namun Fani tidak juga datang walau Anggi telah lama menunggunya. Begitu cerobohnya Fani sampai pernah suatu hari ia datang ke sekolah dengan memakai sepatu yang kiri dan kanannya berbeda.
Fani sebenarnya bukan anak yang malas. Ia hanya terlalu sering melupakan hal-hal yang penting. Suatu ketika Fani disuruh ibunya memberi makan ayam peliharaan mereka. Ketika sedang memberi makan ayam, Fani melihat seekor kupu-kupu yang lucu. Lalu Fani mengejarnya tanpa menutup pintu kandang hingga ayam-ayam berkeliaran di dalam rumah Fani. Di saat lain, Fani pernah meninggalkan keran air wastafel terbuka sehingga airnya menggenang di lantai.
"Kau sebenarnya anak baik, Fani. Hanya saja kau harus lebih memperhatikan apa yang sedang kau lakukan," gerutu Ibu sembari mengepel genangan air. Ibu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan anak bungsunya itu. Ini bukan pertama kali Fani dinasehati. Biasanya setelah dinasehai, penyakit ceroboh Fani hilang. Namun setelah beberapa jam, ia akan melakukan kecerobohan lain.
Melihat Ibu yang kerepotan mengepel, Fani merasa bersalah. Ia lalu menemui Sisi, kakaknya.
"Kak, bagaimana ya cara menyembuhkan kecerobohanku?" keluh Fani. Sisi berpikir sejenak kemudian tersenyum simpul.
"Tunggulah sampai besok. Aku akan memberimu kejutan," ujar Sisi.
Keesokan paginya, ketika bangun tidur, Fani terkejut melihat berbagai kertas di tempel dimana-mana. Di atas wastafel ada kertas bertuliskan "Tutup Keran". Di pintu tertulis "Tutup Pintu". Sampai di kandang ayam pun ada tulisan "Kunci Lagi Kandang Ayamnya" Dan masih banyak lagi kertas-kertas lain di sekeliling rumah. Selain itu, Sisi juga memberi Fani sebuah buku mungil.
"Tulislah di buku ini, apa saja yang harus kau bawa ke sekolah. Lalu nanti sebelum pulang, kau baca lagi daftar barang-barang yang kau bawa itu. Jadi nanti kalau ada yang ketinggalan, kau akan tahu. Dan kalau ada janji, tulis juga di buku ini", jelas Sisi panjang lebar. Fani mengangguk-angguk mengerti.
Pada awalnya, Fani merasa risih melihat banyak kertas bertebaran di rumahnya. Fani juga merasa malas sebentar-sebentar harus melihat ke buku kecil itu. Namun lama-kelamaan, Fani terbiasa. Perlahan-lahan, kebiasaan Fani melupakan sesuatu, menjadi berkurang. Bahkan akhirnya hilang sama sekali. Teman-teman di sekolah sampai heran melihat perubahan pada diri Fani.
Sekarang kertas-kertas itu sudah dilepas karena Fani tidak lagi membutuhkannya. Yang masih disimpan Fani hanyalah buku kecil itu karena ia masih memerlukannya untuk menulis janji.
Kini tidak ada lagi yang menyebutnya Fani si ceroboh.


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.