PInter
Sahrul

Oleh: Kemala.P(Bobo No. 27/XXVIII)


"Rasanya aku ingin istirahat satu hari ini saja," keluh Mama begitu bangun tidur.
Papa bisa mengerti keinginan Mama. Setelah bekerja selama enam hari, tidak ada salahnya bersantai-santai selama satu hari. Karena itu Papa mengajak Nina jalan-jalan sesudah mereka mandi.
"Biarkan Mama istirahat di rumah," kata Papa pada Nina. Kemudian sebelum mereka berangkat, Papa berkata," Mama tidak usah masak hari ini. Nanti kami bawakan masakan dari restoran."
Bram sedang main bola bersama temannya. Jadi Mama benar-benar sendirian di rumah. Mama mengambil majalah lalu membaringkan tubuh di sofa. Hmmm… benar-benar menyenangkan dalam suasana sepi seperti ini, pikirnya.
Ting…tong…ting…tong…
Suara bel mengganggu keasyikan Mama. Sambil mengeluh Mama beranjak dari sofa. Dilemparnya majalah yang sedang dibacanya ke atas meja, kemudian dengan enggan melangkah ke pintu.
"Selamat pagi, Bu…"
"Pagi," sahut Mama pada anak laki-laki yang berdiri di hadapannya. "Mau bertemu Bram? Sayang sekali Bram sudah pergi ke lapangan bola."
"Bukan, Bu. Saya datang ke sini bukan untuk bertemu Bram, tapi ingin bertemu Ibu," sahut anak itu sambil tersenyum.
"Dengan saya?" tanya Mama sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya, Bu. Saya mau menawarkan sabun cuci pada Ibu. Sabun buatan sendiri, Bu. Harganya murah. Dijamin mutunya tidak kalah dengan buatan pabrik," kata anak itu dengan fasih. Dia segera mengeluarkan sebungkus sabun cuci dari dalam tasnya.
Mama menatap anak itu sesaat dengan tatapan heran. Kemudian menggeleng diiringi desisan berat di bibirnya. "Maaf. Saya tidak berniat membeli sabun."
Anak itu tersenyum kecut. Lalu bergumam lirih." Tidak apa-apa." Dimasukkannya kembali sabun itu ke dalam tasnya.
Mama merasa tidak enak melihat senyum anak itu. Cepat-cepat Mama berkata, "Bukan saya tidak mau menolong, Nak. Tapi persedian sabun cuci saya masih banyak."
Sekali lagi anak itu berusaha tersenyum. Meski yang terkembang lagi-lagi senyum kecut. "Saya mengerti, Bu. Kalau begitu saya mohon pamit."
Mama mengangguk lemah. Dia mengawasi anak itu dengan rasa kasihan. Bajunya kelihatan sederhana sekali, tetapi bersih. Dan ketika melihat anak itu berjalan pincang, wajah Mama semakin merasa iba.
"Ah, maafkan saya. Saya tidak tahu kalau kamu cacat."
Anak itu berpaling, lalu tersenyum kecut. Mama merasa tidak enak karena ucapannya sendiri. Dia takut anak itu tersinggung. Segera dia berkata," Saya tidak bermaksud apa-apa, cuma kagum saja. Apa kamu tidak merasa berbeda dengan anak lain karena cacat di tubuhmu itu?"
Anak itu menggeleng, lalu berkta, "Saya tidak merasa berbeda dengan mereka. Kalau tidak, tentu saya tidak akan berada di sini. Permisi, Bu."
Anak itu melangkah kembali. Pada saat itulah Bram muncul. Ditangannya ada bola. Kaosnya basah oleh keringat.
"Lho, kamu ada di sini, Rul?" tegurnya heran ketika melihat anak itu.
Anak itu menghentikan langkahnya.
"Ya, tadi aku tidak tahu kalau ini rumahmu sampai Ibu kamu menyebut namamu tadi," sahut anak itu sambil tersenyum.
"Ada perlu apa kamu mencariku?" tanya Bram lagi.
"Tentu saja bukan untuk mengajakmu bernyanyi," jawab anak itu masih tersenyum, sehingga Mama semakin kagum pada anak itu. Begitu percaya diri. Cacat di kakinya itu tidak membuat dia merasa rendah diri.
"Aku tadi menawarkan sabun cuci pada ibu kamu. Sabun buatanku sendiri. Hasil praktek yang diajarkan Pak Guru ketika pelajaran ketrampilan minggu lalu," sahut anak itu. Dia lalu mengeluarkan sebungkus sabun cuci. "Nih, lihat."
"Wah, hebat kamu, Rul. Kecil-kecil sudah bisa wiraswata," decak Bram kagum. Dia lalu menoleh pada Mama. "Sahrul ini teman sekelasku, Ma. Anaknya rajin dan cerdas. Kecil-kecil begini dia sudah bisa membiayai sekolahnya sendiri. Kami sekelas kagum kepadanya."
Mama semakin kagum pada anak itu. Menyesal tadi telah menolak tawaran anak itu.
"Tadi Mama beli sabunnya?" tanya Bram.
Mama menggeleng dengan berat. "Mama masih punya persedian sabun cuci, Bram."
"Tapi yang ini lain, Ma. Sabun buatan sendiri. Harganya pasti lebih murah dari sabun cuci yang dijual di warung. Iya, kan, Rul?"
"Pasti," jawab Sahrul sambil tersenyum.
"Baiklah. Mama beli satu bungkus dulu. Kalau sabunnya bagus nanti Mama beli lagi."
"Terima kasih, Bu," kata anak itu. Kemudian dia mengedipkan sebelah matanya kepada Bram." Tapi ini bukan karena KKN, kan?"
Bram tergelak. Mama juga tersenyum. Sekilas dia melihat mata Sahrul berbinar. Setelah menerima pembayarannya, dia meninggalkan tempat itu dengan langkah timpang. Sementara Mama dan Bram menatapnya dengan kagum. Anak itu memang patut dijadikan teladan.


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.