PInter
Menyelamatkan Oopa (I)

Anjar, dari Real Kids, Real Adventures(Bobo No. 26/XXVIII)


"Kapan kita akan melihat tambang emas yang baru, Oopa?" tanya David James pada Pak Ryckman, kakeknya. Ya, kakek Ryckman yang dipanggil Oopa oleh David baru membeli sebuah tambang emas.
"Wah, daerahnya sukar dicapai. Mungkin sulit untuk anak seusiamu," ujar Oopa. Usia David limabelas tahun. Namun badannya kecil. Orang mengira usianya duabelas.
"Aku pasti bisa, Oopa!" seru David. "Oopa bilang aku bisa melakukan line cut." Line cut adalah memotong pohon dan semak di pingggir-pinggir tambang.
"Yah, akan Oopa pikirkan. Bagaimana kalau kita mancing besok?" jawab Oopa. Usia Oopa sudah enampuluh tiga. Tapi beliau senang melakukan kegiatan di luar rumah.
David tinggal dengan kakek-neneknya di kota West Vancouver, Kanada. Keempat adik-adiknya tinggal dengan orang tua mereka di kota lain. Tiap akhir pekan, David biasanya pulang ke rumah. Namun liburan musim panas ini, David tetap tinggal dengan kakeknya. Soalnya, ia harus ikut kursus Bahasa Prancis untuk memperbaiki nilai semester lalu.
Beberapa minggu kemudian Oopa mengajak David hiking ke Gunung Unnecessary atau Gunung Tidak Perlu! Ya, untuk melatih daya tahan David sebelum menjelajah tambang emas yang lebih sulit lagi.
"Kita akan naik mobil ke Cypress Bowl, lalu berjalan ke Howe Sound Crest Trail. Jika kita berangkat siang ini, kita akan bisa turun ke Lion's Bay jam 7 malam," jelas Oopa. Itu adalah nama-nama tempat di gunung yang biasa didaki. David terkejut. Mereka sudah pernah menyusuri tempat-tempat itu namun tidak dalam enam atau tujuh jam. Jadi mereka harus berjalan lebih cepat kali ini. Ehm, kalau Oopa bisa, mengapa aku tidak? Pikir David.
"Nanti Nenek akan menjemput kita di Lion's Bay sekitar setengah tujuh. Aku sudah membeli walkie-talkie untukku dan Nenek. Jadi kita bisa menghubunginya saat kita sudah sampai," jelas Oopa lagi.
Siang itu David dan Oopa memulai hiking mereka. Target untuk sampai di puncak lalu turun lagi dalam waktu tujuh jam sepertinya susah dicapai. Oopa hanya mengizinkan istirahat sebentar.
"Pasti yang menamai Gunung Tidak Perlu ini para pendaki gunung yang tidak suka mendaki," komentar David.
"Sudah capek, ya?" goda Oopa. "Kita berjalan cukup cepat juga, ya!"
"Aku masih kuat, kok!" timpal David. "Kita berlari kecil, yuk, Op!" lanjutnya.
"Wah, kau kuat juga, ya! Kukira kamu pasti sudah tertatih-tatih," kata Oopa. Wah, David senang sekali dipuji begitu. Apalagi Oopa jarang memuji.
Sudah pukul setengah lima ketika mereka mencapai puncak. Dari sana mereka bisa melihat laut di kejauhan. Sinar mentari masih hangat namun anginnya dingin. David melihat gumpalan kabut bergerak beriringan.
"Sebaiknya kita segera turun," ujar Oopa. Jalan menurun tidak terlalu melelahkan. Namun kabut mulai tebal. Dan sepertinya itu akan berlangsung lama. Akhirnya Oopa memutuskan untuk mengambil jalan lain.
"Jalan terlalu curam dan amat berbahaya dengan kabut setebal ini," kata Oopa.
"Di tengah kabut dan udara dingin, Oopa dan David menuruni jalan yang curam dengan berhati-hati berpegangan pada batang pohon agar tidak tergelincir. Tak disangka saat itu sudah pukul delapan. Nenek pasti sudah menunggu. Namun walkie-talkie Oopa tidak bisa dipakai.
Tiba-tiba, batu yang dipijak Oopa runtuh. Oopa jatuh menimpa bebatuan. Bergulingan, tubuh Oopa meluncur ke bawah.
"Awaaas!" David berteriak. Ia melihat dengan ketakutan saat Oopa berusaha meraih tebing untuk menahan jatuhnya. Pada detik terakhir, Oopa berhasil meraih akar pohon namun terlepas. Dengan teriakan ketakutan, Oopa menghilang di bawah tebing.
David berdiri terpaku, tidak mempercayai apa yang baru dilihatnya.
"Oopa!" jeritnya. "Oopa! Kau baik-baik saja? Jawablah aku!" David melihat jauh di bawahnya, di antara kabut tebal. Tubuh Oopa terbaring kaku. Tak ada jawaban namun David seperti mendengar rintihan pelan. David lalu membuat keputusan.
"Aku akan turun!" teriaknya. "Bertahanlah, Oopa!"
Dengan penuh keberanian, David mencoba menuruni tebing batu itu. Jika ia tak berhati-hati, ia bisa jatuh seperti Oopa. Ransel di punggung dijatuhkannya. Ia memperhatikan ketika ransel itu menabrak bebatuan di dinding tebing lalu jatuh dengan bunyi berdebum. Mungkin sama seperti tubuh Oopa, pikirnya ngeri.
Tebing itu sepertinya tak mungkin untuk dituruni. Namun tak ada waktu tersisa. David harus cepat-cepat menolong Oopa. Kaki kiri. Tangan kanan. Kaki kanan. Tangan kiri. David menuruni tebing secepat yang ia bisa. Kalau ada kemauan, pasti ada jalan. Itu salah satu peribahasa favorit Oopa. David hampir sampai di bawah.
"Aku datang, Oopa!" katanya. Dan akhirnya, David memijak tanah lagi. Oopa luka berat. Pakaiannya robek dan berlumuran darah. David berbisik di telinganya namun Oopa tetap diam. David melihat dada Oopa bergerak. Paling tidak ia masih bernapas! Ia segera melihat sekelilingnya. Oh, coba ia ingat mengenai PPPK yang sering diajarkan Oopa! Hentikan pendarahan. Itukah hal pertama yang harus dilakukan? David berpikir keras.
Dahi Oopa yang robek banyak mengeluarkan darah. Dengan lembut David menutupi luka itu dengan jaketnya. Mirip perban. Ia mengikatnya dengan keras agar pendarahan berhenti. Lalu David ingat bahwa orang yang pingsan kadang-kadang tersedak lidah mereka sendiri. Dengan hati-hati, ia memiringkan tubuh Oopa.
Lalu David ingat walkie-talkie. Diambilnya alat itu dari dalam ransel. Sepertinya tidak rusak.
"Mayday! Mayday! Di sini keadaan darurat! Adakah yang bisa mendengar?" David menunggu beberapa saat namun tak ada jawaban. Dengan bingung dilihatnya Oopa. Luka itu berdarah lagi dan ikatan jaketnya nyaris terbuka. David mengikatnya lagi. Ah, wajah Oopa amat pucat.
Apakah beliau sudah meninggal? Pikir David. Kalaupun Oopa masih hidup, itu hanya sebentar. Oopa butuh bantuan secepatnya.
"Aku akan mencari bantuan, Oopa," ujar David sambil menahan airmatanya. "Oopa tunggu di sini, dan jangan bergerak. Oopa dengar? Aku akan mencari pertolongan!"
Oopa tidak menjawab. David meraih ranselnya dan berlari menyusuri tebing yang menuju laut. Akankah ia cepat menemukan bantuan? (Bersambung)


Mundur satu
halaman !

Mundur

Diambil dari Majalah Teman Bermain dan Belajar.

Pacific Internet | Site Map | Search | Kotak Saran


copyright © 1998 PInter Indonesia.