| Naik Sapu Terbang Bersama Harry Oleh: Zaenal Radar T (Bobo No.
14/XXX)
Sebenarnya hari Minggu ini aku ngantuk sekali. Semalam aku menemani Kak Arsid nonton Liga Italy sampai pagi. Dan paginya aku tak bisa tidur karena Paman Endang datang. Berbeda dengan Kak Arsid yang tidur sampai siang. Aku menemani Paman Endang yang sudah jauh-jauh datang dari London.

Sorenya ketika Paman Endang pamit ke rumah Kakek, Ayah, Ibu dan Kak Arsid mengajakku ke bioskop. Apa boleh buat, aku pura-pura tegar. Padahal rasa kantukku hebat sekali. Tetapi karena ke bioskop, apa boleh buat. Apalagi kata Paman Endang filmnya bagus. Paman sudah menontonnya di London. Film itu memang sangat dinanti-nanti kami sekeluarga. Ayah telah membeli empat bukunya untuk kami.
Tetapi sekali lagi, terus terang saja aku ngantuk berat! Sejak mengantri karcis, mataku sudah sulit kukendalikan. Ayah, Ibu, Kak Arsid tentu tidak tahu kalau aku ngantuk.
Kini kami memasuki bioskop, duduk menghadap layar. Mataku benar-benar tak berdaya melihat layar yang tertimpa cahaya proyektor. Film dimulai. Kantukku tak tertahan. AC bioskop sungguh sejuk. Dan mataku benar-benar terpejam. Mungkin Kak Arsid, Ibu dan Ayah asyik dengan film itu. Sehingga lupa kalau aku juga ikut menonton.
“Kenalkan, aku Harry!” kata bocah itu. Dia bertubuh tidak terlalu besar, bertampang manis dan berkacamata minus.
“Harry?! Ka… ka… kamu….Harry!?” aku tak percaya.
“Ya. Kalau kamu tak percaya, mari ikut aku.”
Lalu Harry membawaku ke tempat sepi. Harry memperlihatkan sebuah sapu. Sapu yang bagus sekali. Langsing berkilat, dengan gagang dari mahagoni. Anyaman di ujungnya lurus dan rapi, dengan tulisan emas Nimbus Dua Ribu di dekat puncaknya.
Harry memanggil sapu itu, “Nimbus Dua Ribu!”
Lalu sapu itu terangkat sendiri ke udara, kira-kira setinggi sadel sepedaku.
“Mari, kita naik bersama-sama!” ajak Harry padaku.
Setengah berani setengah tahuk, aku menuruti. Kami naik sapu itu seolah-olah naik sepeda berboncengan. Harry di depan dan aku memeluknya di belakang.
“Berangkat!!” Harry berteriak, dan sapu itu pun terbang! Wwuuuussshhh…!!!
Mulanya aku deg-degan. Tetapi lama-lama jadi asyik sekali.
“Kita ke mana?” tanya Harry kemudian.
“Anatar aku ke toko buku,” kataku.
“Ke mana?”
“Di Blok M!”
Atas perintah Harry, sapu itu terbang menuju blok M. Tetapi sebelum tiba di Blok M, Harry mengajakku berkeliling-keliling. Kami meluncur di atas lapangan sepak bola Gelora Bung Karno. Lalu kembali melintasi atas Plaza Senayan. Dan, dengan kekuatan yang luar biasa, sapu itu berbalik arah, melesat ke jalan Jenderal Sudirman. Dengan leluasa aku dan Harry memandang bangunan kota Jakarta dari ketinggian. Beberapa orang yang melihat kami berteriak-teriak,
“Ada sapu terbang! Ada sapu terbang!”
Aku dan Harry hanya melambaikan tangan ke arah mereka. Beberapa saat kemudian sapu itu melesat di atas bundaran HI. Ciiihuuuuuyyy…!!! Sapu itu menukik, miring ke kiri, ke kanan, tegak ke atas dan kembali meluncur lurus. Pintar sekali Harry memainkan Nimbus Dua Ribunya.
Setelah beberapa saat berputar-putar, akhirnya kami kelelahan. Dan kami memilih istirahat di Monas. Aku dan Harry menclok tepat di atas Monas! Baru kali ini aku bisa memeluk bongkahan emas di atas Monas!
“Oh, ya, namaku Markum,” kataku, tersenyum pada Harry. Uh, sombong sekali aku, tak memperkenalkan namaku sejak tadi.
“Gimana, asyik kan naik sapu terbang?”
“Ok’s banget, Har!”
“Tapi sayangnya kita tidak bisa lama-lama di sini. Karena aku harus kembali ke sekolah Hogwarts.”
“Sekolah Hogwarts?”
“Ya, apa kamu tahu?”
“Tentu saja, Harry!”
“Baiklah. Kita ke tujuan semula. Ke toko buku di Blok M!” Kami ke Blok M. Di sepanjang jalan yang kami lintasi, orang-orang berteriak-teriak, “Harry Potter! Harry Potter! Ada Harry Potter, heeey….!”
Wwwuuuusssshhhh….! Sapu terbang melesat ke udara, melintasi gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Namun ketika sapu yang membawa kami menukik, tanganku terlepas dari pegangan. Dan tubuhku tergelincir ke bawah! Aku menjerit, berteriak sejadi-jadinya.
“Harrry! Harry Potter! Tolong aku!”
Tubuhku terus saja meluncur ke tanah. Orang-orang yang kebetulan melihatku, menjerit-jerit ketakutan.
“Toloooooonggg….! Tolong aku, Harry Potterrrrr!!!”
v“Kum! Markum! Kenapa kamu? Kamu ketiduran, yah? Hey, ayo bangun! Filmnya sudah habis!”
Tiba-tiba Ayah, Ibu, dan Kak Arsid membangunkanku. Orang-orang di dalam bioskop senyum-senyum ke arahku. Aku mengucek-ucek mata.
“Harry Potternya mana, Bu?” tanyaku.
“Filmnya sudah selesai, sayang.”
Hah? Sudah selesai? Yaa, aku jadi tidak nonton!
Tapi tidak apa-apa. Yang penting aku sudah merasakan naik Nimbus Dua Ribu bersama Harry Potter! Meskipun hanya dalam mimpi.
|